Alasan Mengapa Islam dan Feminisme Tidak Berjodoh (Updated)

Nyo
14 min readApr 5, 2019

--

Alasan yang fundamental dan radiks mengapa kacamata Islam tidak sejalan dengan feminisme.

1sumber foto http://bit.ly/womenandfeminism

Feminisme. Sebuah ideologi, gerakan, hingga kampanye yang mengusung ide bahwa kesetaraan gender bisa diraih dan perempuan mendapat tempat di masyarakat menjadi lebih baik. Tapi pertanyaan yang mungkin muncul di benak beberapa orang termasuk saya, mungkinkah?

PHASE ONE : PERKENALAN DENGAN FEMINISME

Perkenalan gue dengan feminisme bermula di akhir tahun 2014 ketika pertama kali membaca novel-novel Ayu Utami. Novel pertama yang gue baca adalah Saman. Bermula dari Ayu Utami dan deretan sastra wanginya, akhirnya gue mendapatkan pemahaman baru bernama feminisme. Berangkat dari itu gue mulai mencari lebih banyak literatur baik ilmiah maupun karya fiksi yang memaparkan lebih jauh apa itu feminisme atau isu yang berkaitan dengan misi feminisme sendiri. Gue mulai baca puisi karya Sappho, buku The Second Sex — Simone de Beauvoir, The Feminine Mystique milik Betty Friedan, Jurnal Perempuan-nya Gadis Arivia, dan sebagainya. Gue sikat deh apa aja rekomendasi literatur yang bisa dibaca.

Jujur saat itu, gue terkesima.

Ide feminisme dan cita cita di dalamnya membuai gue.

When you were seventeen, all new informations which entered your head felt like astonishing new idea.

Gue pun mendapat kesempatan juga untuk menjadi salah satu volunteer (dan volunteer termuda juga) di sub-proyek milik salah seorang dosen psikologi ternama. Beliau membuat rumah aman bagi para penyintas KDRT, human trafficking, juga sebagai wadah untuk gender studies sesama volunteer dan narsumnya.

Mulai dari titik itu gue lebih giat lagi mengkaji tentang feminisme terutama setelah melihat bahwa apa yang dilakukan di rumah aman saat itu adalah program bertema perlindungan perempuan. It was a good memory and lessons, indeed.

Namun, mungkin memang jalan yang Allah tunjukan itu unik dan berliku. Seiring banyak referensi bacaan yang gue dapatkan dan banyaknya aktivis feminis di sekitar gue yang mulai melebarkan sayapnya ke ranah di luar wanita dan anak membuat gue sedikit terusik dengan paham yang gue pelajari. Gue pun mulai menelaah kembali gerakan feminisme gelombang ketiga yang ada di Indonesia (ketika saya merevisi ini, saya mencoba mencari tahu feminisme gelombang ke empat). Saat itu posisinya gue belum mempelajari ilmu agama secara mendalam, hanya konteks luarnya aja.

Ada beberapa hal yang akan terbagi menjadi beberapa fase topik ketika lo (sebagai pembaca) mencermati isi artikel gue. Gue membuat artikel ini dalam sudut pandang Islam jadi apabila ada argumen yang bilang sejenis “kenapa ngambil sudut pandangnya cuma dari Islam? Gak komprehensif dong?” Loh, even ketika lo bikin skripsi aja ngga semua sudut pandang atau topik bisa dikaji secara bersamaan. Maka kali ini gue akan menggunakan komparasi Islam dan feminisme melalui literatur yang gue baca + fenomena gerakan feminis di sekitar gue.

PHASE TWO : ISLAM, PENOLAKAN LGBTQ, DAN HUBUNGAN MANUSIA

Ketika gue bekerja di rumah aman dan banyak berdiskusi tentang pergerakan perempuan belum terlalu terdengar konteks LGBTQ secara frontal. Itu sekitar tahun 2016an dan isu LGBTQ belum seramai sekarang. Meskipun gue feminis , gue keberatan dengan LGBTQ yang tentu kita tau secara luas gelombang feminisme saat ini sangat gencar mendukung keadilan bagi kaum tersebut. Jangan salah, gue punya teman yang lesbian dan gay bahkan sudah berteman cukup lama dengan mereka. Gue menghargai mereka sebagai human being tetapi tidak mendukung orientasi seksual mereka. Kenapa? karena bagaimana pun juga mereka tetap manusia dan masih bagian dalam lingkar masyarakat yang sama dengan gue.

Yang penting dicatat dan harus menjadi diferensiasi adalah cara kita menyikapi pilihan mereka sebagai LGBTQ dan memperlakukan mereka sebagai human being bukan sebagai what they possesed.

Gue selamanya memerangi perilaku, pemikiran, gerakan dan orientasi seks mereka, tetapi ngga serta merta ketika bertemu salah satu diantara mereka gue akan main tangan dong.

Alasan gue tidak mendukung LGBTQ karena adanya perbenturan moral yang gue amati ketika komunitas ini muncul. Pertama, di circle gue banyak yang menjadi pelakon LGBTQ berangkat dari trauma psikologis & psikis. Entah broken home, entah korban pelecehan seksual, dan sebagainya. Gue bersimpati dengan apa yang menimpa mereka tetapi gue tidak bisa melihat masa lalu tersebut sebagai justifikasi konkrit atas apa yang sekarang mereka lakukan sekarang. It just doesn’t make sense.

dalam Islam, aturan hubungan pria dan wanita sudah diatur sedemikian rupa. Berikut beberapa ayat yang mendukung,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿النساء:١﴾

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt. adalah pengawas atas kamu”. (An Nisa: 1)

فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ

“Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.” (QS.Al-Qiyamah:39)

Dari dua ayat tersebut sudah dijelaskan berkali-kali siapa sepasang itu : laki-laki dan perempuan. Selain itu sebagai perwujudan takwa hambanya, Allah Subhanahu Wa Ta’alla telah mengatur fitrah manusia untuk saling menemukan “satu jiwanya” yaitu dalam lembaga pernikahan yang sah.

Jelas, point ISLAM & LGBT tidak memiliki irisan sama sekali karena Allah melaknat perbuatan tersebut. Seperti firman Allah dalam surat Al-A’raaf ayat 80,

{وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ}

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?”

Apa yang bisa terjadi bila LGBTQ berkembang pesat? Rusaknya tatanan sosial masyarakat. Tatanan sosial masyarakat dipengaruhi oleh konstruksi sosial dimana konstruksi sosial itu sendiri memiliki berbagai aspek yang menunjang perubahan atau stagnansinya. Bayangkan bila LGBTQ menyebar (dengan jargon Love Wins nya tersebut) dan membuat terpecahnya konstruksi sosial di unit rumah tangga? Anak yang kebingungan siapa ayah ibunya karena dua duanya homoseksual?

Berger and Luckmann (1991) melihat masyarakat sebagai kehadiran baik itu realitas obyektif atau subyektif. Para pendahulu membawa interaksi dengan dunia sosial kemudian mempengaruhi manusia yang meghasilkan rutinisasi dan habitualisasi. Jadi apabila suatu aksi dilakukan terus menerus akan menjadi sebuah pola yang kelak direproduksi generasi berikutnya tanpa banyak usaha. Teori ini menjadi alasan kenapa apabila pelaku LGBTQ dibiarkan, akan melakukan sebuah aktivitas yang terekspos ke masyarakat secara terus menerus dan lama kelamaan hal tersebut menjadi rutinitas.

Herannya kok feminisme malah mendukung hal yang menyimpang agar menjadi rutinitas yang wajar ya?

Ketika gue mengutarakan ketidaksetujuan terhadap LGBTQ tapi gue juga menganut paham feminisme, banyak yang bilang gue tidak jadi feminis seutuhnya. Lah? Bukannya ide feminisme itu awalnya hanya perjuangan hak wanita bukan merambah ke luar dari itu? Ngga usah ngomongin jadi golongan feminis radikal atau liberal dkk nya dulu deh… Ini udah sampai tahap dimana feminis harus interseksionalis, ngga bisa asal comot isu kayak prasmanan.

Ini satu dari sekian banyak pengikut paham feminis yang menjadikan standar mereka sebuah logical fallacy. Ada lagi yang pernah argumentasi ke gue kalau bisa aja gue jadi feminis tanpa mendukung LGBTQ. Lah kok bisa ada dua opini gini?

Sebenernya agenda dibalik feminisme itu apa?

PHASE THREE : SEJARAH FEMINIS DAN DESAKRALISASI NILAI AGAMA

Keraguan pun muncul. Lebih lagi ketika feminis terbagi lagi menjadi beberapa aliran seperti feminis radikal, feminis liberal, feminis marxis, sampai feminis sosialis. Kok banyak amat…

Coba deh kita oprek sejarah feminismenya dulu. Kalau dari catatan sejarah kan jelas kalau awal mula manifestasi ide feminisme berkembangnya pada abad pertengahan Eropa (meski kajian post-mo feminisme bilang bahwa ide feminisme uda berkembang jauh di peradaban Yunani kuno). Selain masalah perspektif pada wanita, periode awal ini muncul karena konflik dogma gereja saat itu. Ingat ngga sejarah dulu di abad pertengahan bahwa suara gereja adalah kebijakan tinggi dengan segala wewenangnya? Ada dua doktrin dasar gereja yang membuat kedudukan perempuan pada abad pertengahan selayaknya binatang. Pertama, gereja menganggap wanita sebagai ibu dari dosa yang berakar dari setan. Wanitalah yang menjerumuskan lelaki ke dalam dosa dan kejahatan, dan menuntunya ke neraka. Tertullian (150M) sebagai Bapak Gereja pertama menyatakan doktrin kristen tentang wanita sebagai berikut :

Wanita yang membukakan pintu bagi masuknya godaan setan dan membimbing kaum pria ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan mebuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan.

Sejak saat itu, isi kesetaraan muncul di Eropa.

sumber foto : https://edition.cnn.com/2015/07/22/living/the-seventies-feminism-womens-lib/index.html

Kemudian Gerakan perempuan di Amerika mulai muncul di pertengahan abad ke-19. Konvensi yang diselenggarakan oleh Lucretia Mott dan Elizabeth Cady Stanton pada 19–20 Juli 1848 menuntut seputar emansipasi persamaan hak serta penghapusan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Tuntutan inilah yang kemudian menjadi dasar dari gerakan perempuan yang saat ini dikenal dengan feminisme. Konvensi beres, mereka lanjut membentuk National Women Suffrage Association (NWSA) yang mengajukan amandemen pada konstitusi untuk hak suara bagi kaum perempuan. Kemudian pada tahun 1894, berdiri sebuah kelompok, General Federation of Women’s (GFW) berdiri di Amerika. Nah si GFW ini memperjuangkan berbagai permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Tidak terbatas hanya pada permasalahan diskriminasi terhadap perempuan saja, tapi juga masalah perburuhan, masalah sosial, hingga kehidupan remaja.

Rumit ye? Bentar kita ngeteh dulu…

Nah lanjut nih ya, era Perang Dunia II, lebih dari 6 juta perempuan harus bekerja diberbagai sektor yang selama ini di kerjakan oleh laki-laki. Kenapa? Kekurangan sumber daya manusia lah ceu, kan lakiknya pada berangkat ke medan perang. Wanita dan anak “dipaksa” secara halus oleh kapitalis ini untuk terjun ke lapangan kerja dimana kemudian momen ini dipermanis sebagai sebuah momentum “Emansipasi Wanita”. Kaget? Ya jangan kaget dulu, sejarah kan tergantung siapa yang nulis. Tahun 1920an Virginia Wolf mengeluarkan buku berjudul A Room For One’s Own yang mana secara harafiah menuntut kesetaraan hak bagi perempuan dan menolak subordinasi pria dan wanita.

Kalau di Indonesia gerakan feminisme itu bagaimana?

Ini menarik karena banyak feminis Indonesia (terutama yang masih muda) muncul di salah satu akun anti feminis selalu menyeru dan berputar di situ aja:

1. “TERUS KALAU BUKAN FEMINIS, JASANYA RA KARTINI, DEWI SARTIKA, CUT NYAK DIEN, DSB APA DONG?”

2. “Oh Anti feminis? paling tipikal cewe yang maunya di rumah doang, manja, ngga berpendidikan, dan cuma ngurus sumur dapur kasur.”

3. “Itu lo sekarang bisa kerja, sekolah, dll kalau bukan karena feminis juga gak bisa kali!”

Udah? Bacanya jangan ikutan ngegas yak… Santai aja. Yahhh, masih banyak sih sebenernya logical fallacy diantara argumentasi netijen tersebut. post hoc ergo propter hoc.

Pertama, gerakan feminisme berkembangan di Indonesia karena isu budaya domestik sendiri. Adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks budaya daerah masing-masing sudah berbeda. Tapi kenapa yang paling membekas soal kesetaraan wanita di Indonesia cuma RA Kartini ya? Kemungkinan terbesar adalah karena RA Kartini seorang Jawa berdarah biru dan memiliki privilege serta akses ke dunia Western. Kalau kalian para feminis di Indonesia menganggap RA Kartini satu satunya pemantik emansipasi wanita dalam ranah publik, mungkin belum pernah denger nama Sultanah Dannir.

Sultanah Dannir

Sultanah Dannir tercatat memimpin wilayah Pasai dan Kadah (kini Kabupaten Aceh Utara) Aceh sekitar abad 14 Masehi (1389 M). Atau sudah pernah dengar Siti Raham binti Rasul Endah Sutan? Titelnya adalah istri dari Buya Hamka seorang sastrawan, politikus, juga cendekiawan yang mahsyur di era Orla dan Orba. Buya Hamka banyak berdiskusi dan meminta pendapat dari istrinya tentang keputusan apa saja yang diambil dalam kiprah politiknya.

Mengapa para wanita yang juga sama berjuang di berbagai bidang ini kalah tenar dengan RA Kartini? Karena catatan sejarah kita masih ada jejak jejak post kolonialisme dimana saat itu beliau (Kartini .red) yang dekat dengan para kolonial. Tapi, toh sampai sekarang mungkin banyak yang belum tau kalau Kartini akhirnya mengirimkan surat berisi kekecewaannya kepada Stella Zeehandelar. Surat bertanggal 27 Oktober 1902 yang mempertanyakan apakah ide ide dari Stella di Eropa lebih baik dan ketidakpatutannya untuk disebut peradaban.

Secara praktis, beberapa catatan sejarah di atas mematahkan argumentasi para feminis di point kedua dimana mereka bilang wanita hanya ngurus sumur, kasur dapur. Mematahkan pula argumentasi bahwa wanita terus menerus menjadi lini kedua lapisan masyarakat. Katanya feminis ya, tapi masih ada aja loh pandangan yang mendiskreditkan peran ibu rumah tangga dan sangat meninggikan wanita bekerja bila dilihat dari akun instagram pro feminisme. Bukannya harusnya mereka setara, tidak ada yang lebih superior?

Banyak yang mengklaim bahwa Khadijjah Radiyallahu Anhu juga menjadi sosok feminis dalam Islam. Siapa yang menyebutkan? Dalil dari mana? Memangnya hanya karena Khadijjah seorang pedagang yang sukses dan juga memiliki pengaruh politik tinggi bisa serta merta disematkan titel sebagai feminis? hati hati, menyematkan sebuah titel itu berarti memahami secara holistik. Gerakan Khadijjah Radiyallahu Anhu tidak bernapaskan nilai feminisme baik secara ontologis, aksiologis, dan epistimologis.

Naudzubillahi min dzaalik.

Dalam Islam wanita dianjurkan bahkan diwajibkan untuk berilmu. Apa gunanya ilmu? Karena keluarga, terutama ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Berhubung gue dari jurusan PAUD, gue sangat mengamini ini. Anak belajar sejak masih dalam kandungan hingga lahir. Anak belajar mengenali suara dan emosi si ibu, bahkan penelitian oleh University of Washington, perempuan (dalam hal ini ibu), menurunkan gen kecerdasan lebih banyak karena perempuan memiliki dua kromosom X. Ayah hanya memiliki satu kromosom X. Kromosom inilah yang menentukan fungsi kognitif seorang anak.

Dalam kacamata Islam sekalipun, sebaiknya wanita berada di rumah (tetapi tidak melarang wanita bekerja dalam keadaan mendesak) dan mengurus keluarga. Kenapa? karena banyaknya fenomena daycare dan penitipan anak lahir karena tingginya presentase ibu bekerja. Fenomena ibu bekerja ini hasil dari apa? Gerakan feminisme tentunya…

Sebenarnya keberadaan baby daycare sudah lama berkembang di negara-negara Skandinavia. Negara-negara Skandinavia adalah negara-negara dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi. Tetep ada satu hal yang jadi problem yaitu merosotnya angka kelahiran bayi (natality rate) bahkan laju pertumbuhannya minus. Dalam sehari lebih banyak orang yang meninggal daripada bayi yang lahir. Ide KKG (keadilan dan kesetaraan gender) disana terhitung berhasil, sehingga mampu membuat persepsi baru bahwa perempuan modern adalah yang berintelektualitas tinggi dan perempuan yang mampu melebur bersama kaum laki-laki di ranah publik. Ide inilah yang menjadi cikal bakal hancurnya tatanan masyarakat terbawah yaitu keluarga. Efek paling besar? Bencana minus demografi.

Stimulus terbaik bagi anak adalah figur lekatnya. Hal ini akan mempengaruhi aspek emosi anak ke beberapa generasi sesudahnya. Bagaimana jadinya kalau anak yang berhak mendapat kasih sayang ibu malah tidak mendapat porsi cukup karena ibu harus bekerja. Toh, meskipun wanita di rumah ngga ada kan dalil yang melarang wanita mengaktualisasi dirinya. Bisa dengan melukis di rumah, bekerja freelance, dsb. Mengapa tidak?

Setiap orang punya kecenderungan mengaktualisasi diri seperti teori Abraham Maslow.

Teori Hierarchy of Needs oleh Abraham Maslow

Tingkatan tertinggi hirarki kebutuhan manusia adalah aktualisasi diri, namun kadang kita lupa sebelum meraih piramida tertinggi tersebut kita harus aman secara material dan emosional terlebih dahulu. Dalam fenomena ibu bekerja, masih banyak kasus dimana terjadi ketimpangan antara pemenuhan material dan emosional.

Kemudian dalam hadist Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Jauh berabad abad sebelum manifestasi ide feminisme muncul, Islam sudah menunjukan letak kemuliaan wanita dengan menyebutkan “Ibumu” sampai tiga kali baru ayahmu. Disini bisa dilihat betapa Islam sangat memberikan ruang dan derajat bagi sosok wanita karena Islam sadar bahwa wanita adalah garda depan peradaban, dari merekalah generasi baru lahir.

Mirisnya, bagi para feminis radikal secara tidak sadar paham mereka telah perlahan mendesakralisasi nilai agama terutama Islam. Agama Islam sejak abad ke-7 M telah menepatkan perempuan dalam posisi yang begitu mulia.

  1. Allah memerintahkan seorang suami agar bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik.
    وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
    “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa`: 19)
  2. Islam menjadikan anak perempuan penghalang neraka bagi orang tua:
    مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
    “Siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang/penutup baginya dari api neraka.” (HR. ِAl-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 6636)
  3. Islam mengharamkan seorang anak berbuat durhaka kepada ibunya sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam sabda beliau:
    إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ…
    “Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada para ibu…” (HR. Al-Bukhari no. 5975 dan Muslim no. 593)

Annie Besants memberika pandangannya tentang wanita Islam,

”Sesungguhnya kaum wanita dalam naungan Islam jauh lebih merdeka dibandingkan dalam mazhab-mazhab lain. Islam lebih melindungi hak-hak wanita daripada agama Masehi. Sementara kaum wanita Inggris tidak memperoleh hak kepemilikan-kecuali sejak 20 tahun yang lalu-Islam telah memberikan sejak saat pertama.”

Ayo kita komparasi. Islam memiliki aturan jelas tentang penutupan aurat, hubungan antara pria dan wanita, kedudukan wanita, bahkan wanita yang terpaksa bekerja, kerjanya dihitung sedekah. Mengapa perlu ada paham feminisme yang bukannya mengkomplementer Islam tapi malah mendesakralisasi nilai Islam.

Di titik ini sudah jelas dari paparan sejarah feminisme, motif pergerakannya hingga gelombang keempat yang sekarang sedang bubbling dimana mana seiring bertambahnya usia Gen X. Kalau sudah begini, seberapa relevan isu kesetaraan gender bagi laki-laki dan perempuan? Wanita di encourage untuk belajar sudah, dimuliakan posisinya sebagai ibu dan sosok wanita sendiri sudah, diberi perintah memakai jilbab karena untuk melindungi diri sudah. Apa lagiiiiii wahai pembaca? Kalau pun sudah ditulis pemaparan sepanjang ini lalu masih ada yang menggunakan argumentasi yang cacat logika seperti:

“nanti kalau ngga ada feminisme, diperkosa jangan nangis ya!”
“tanpa feminisme lo ngga bisa baca, kerja, sekolah dan lain lain”
“yaudah kalo lo ngga mendukung feminisme nanti terima aja kalau kena KDRT kan kodratnya istri ikut suami.”

Gue paling cuma bisa geleng geleng kepala.

Pertanyaan gue bagi para feminis : Kalian udah paham beneran belom sih sama paham feminisme?

Banyak sebenernya yang bisa dibahas tentang feminisme dalam kacamata Islam. Tapi untuk uraian detailnya harus dibagi bagi ke dalam beberapa post sih. Kenapa gue bikin artikel ini? Karena banyak yang belum begitu paham fundamental dari gerakan ini. Belom lagi yang kontra dengan akun @indonesiatanpafeminis pada ganas bener komennya. Heum, kalem kalem sister. Kalo mau kontra, coba deh menjadi pihak kontradiktif yang sehat, berakal budi, dan punya sopan santun dalam beropini. Bukannya kalian kontra dan marah marah sesimpel karena melihat satu gerakan yang ga sejalan. Itu childish banget sih…

Kesimpulannya adalah dari berbagai komparasi baik sejarah, motif, hingga pergerakannya tujuan feminisme itu satu : liberasi. Entah itu liberasi hak, liberasi tatanan sosial, hingga liberasi value. Tentu dalam Islam mustahil menemukan irisan antara feminisme dan ideologi agama yang Rahmatan Lil Alamin karena dalam prakteknya gerakan feminisme justru mendesakralisasi nilai agama seperti contoh dampak pada struktur sosial di masyarakat yang akan terjadi apabila gerakan feminisme tidak berbatas.

Allahu Musta’an…

_____

Referensi :
Feminisme di Indonesia: Sekilas Sejarah dan Dinamika https://nalarpolitik.com/feminisme-di-indonesia-sekilas-sejarah-dan-dinamika/

Gerakan Feminisme; Sejarah, Perkembangan serta Corak Pemikirannya
http://www.pmiigusdur.com/2013/11/gerakan-feminisme-sejarah-perkembangan.html

The American Women’s Movement, 1945–2000: A Brief History with Documents by Nancy MacLean

Ibumu… Kemudian Ibumu… Kemudian Ibumu..
https://muslimah.or.id/1861-ibumu-kemudian-ibumu-kemudian-ibumu.html

Sejarah Partisipasi Politik Perempuan Indonesia Bagian I
https://thisisgender.com/sejarah-partisipasi-politik-perempuan-indonesia-bagian-i/

Hak Hak Wanita dalam Islam
http://asysyariah.com/hak-hak-wanita-dalam-islam/

Isu Gender : Sejarah dan Perkembangannya
https://thisisgender.com/isu-gender-sejarah-dan-perkembangannya/

Kaum Gay, Inilah Wahyu Allah Ta’ala Tentang Anda
https://muslim.or.id/27432-kaum-gay-inilah-wahyu-allah-taala-tentang-anda.html

Jejak Sukses 30 Wanita Beriman, Ahmad Muhammad Jamal. Pustakan Progressif : Surabaya, 1991.

What is Social Constructionism by Tom Andrews (University College Cork)
http://groundedtheoryreview.com/2012/06/01/what-is-social-constructionism/

8 Ayat Pernikahan Dalam Islam dan Hadistnya
https://dalamislam.com/hukum-islam/pernikahan/ayat-pernikahan-dalam-islam

The waves of feminism, and why people keep fighting over theme, explained
https://www.vox.com/2018/3/20/16955588/feminism-waves-explained-first-second-third-fourth

Youtube Video : Zara Faris debunks Feminism at London Debate
https://www.youtube.com/watch?v=HI2ZYWZWlYo

--

--

Nyo
Nyo

Written by Nyo

Digital Educator | Building a better learning experiences for all

Responses (9)